Kamis, 08 November 2012

Aku di Balik Layar

Tak tahu dari mana kisah ini harus berawal, mungkin permulaan dari kepingan kisah masa lalu. Aku memang tak pandai menulis, aku tak puitis bahkan romantis. Namun kisah inilah yang menarikku tuk sedikit melahirkan antologi.
Kini aku duduk di bangku SMA, aku hidup di kehidupan dan lingkungan yang baru. Tinggal di asrama. Seperti biasa, sebagai anak baru kami saling memperkenalkan diri. Kali ini aku terkesima untuk satu suara laki-laki.
 “hadir!” sambil memperkenalkan diri. Aku yang semula terdiam, seakan tersambar petir.
 “suara itu? suaranya? siapa dia?” mataku jelalatan mencari suara setan itu. Yah, suara setan. Suara itu menggangguku! mengingatkanku pada masa lalu. Suara inilah, permulaan dari kepingan kisah masa lalu itu. Aku memang merindukan suaranya. Bukan hanya itu, bayangan dan senyumnya pun masih terngiang. Tidak! aku harus menepis semuanya. Sebab inilah mengapa ku sebut itu suara setan.
Ku tahu dia, begitupun sosoknya. Laki-laki ikal. Satu ruangan kelas membuatku terasing dengannya. Hanya karena tingkah, tawa, dan suara mautnya sama percis dengan masa laluku. Ah mengganggu saja! membuatku semakin  muak! Dengar aku kawan, aku hanya tak mau mengingatnya. Sebaliknya, kau malah mengingatkanku padanya. Itu membuatku kalang kabut, bahkan kesal sendiri. Terlebih memperhatikan tingkah tengilmu, Tanpa disengaja. Maka dari itu nafas benciku terlahir. Hampir sebagian dari mereka tahu. Bahwa aku sangat tak menyukainya. Aku hanya merasa iba, pada kekasihnya. Karena dia kena imbasku, aku ikut tidak menyukainya. Perempuan yang pernah menjadi teman semejaku.
Mungkin istilah lain, aku membenci laki-laki itu. Jangankan untuk melihat wajahnya, mendengar suaranyapun aku muak. Setidaknya dia teman sekelasku, mustahil jika aku tak melihatnya. Sebenarnya keadaan ini hanya merugikan diriku sendiri, tidak untuk dirinya. Hal lain yang membuatku lebih jengkel. Tergugah untuk mengalahkannya. Bayangkan saja, sekejap dia berubah menjadi laki-laki jenius. Sering kali aku melihatnya menjawab soal-soal yang menjadi kelemahanku. Matematika dan IPA.
“aku tak terima ini! Aku harus melebihinya apapun jalannya! Dia tidak boleh melangkahiku!”
Tingkahnya kali ini justru meniup semangat juangku. Aku berburu teman-temanku yang memang ahli pada kelemahanku. Setidaknya musuhku itu motivatorku. Saat ini aku takkan memikirkan perasaan jijikku padanya. Aku harus menelan ludah dan mengacungkan jempol untuk mengalahkannya. Pepatahpun mengatakan : musuh yang pintar lebih baik dari pada teman yang bodoh.
Alhasil, menginjak kelas 2 SMA. Aku berada lebih atas darinya dengan hasil ujianku yang pas-pasan. Aku bersyukur, kali ini kami pisah kelas. Disisi lain aku amat berterima kasih dengannya. Karena dialah yang meniup semangat juangku.Namun aku hanya berterima kasih pada tuhan dan semoga tuhan menyampaikan rasa terima kasihku padanya.
“ya Allah terima kasih atas nikmatmu. Sampaikan pula salam terima kasihku padanya.”
Aku mulai was-was. Takut dengan perkataan mereka, dengan semua yang ku alami.
“awas lho,benci nanti jadi cinta lagi?” goda gia, teman dekatku kala itu.
“ah, omong kosong! Itu hanya mitos belaka. Mustahil! aku takan pernah menyukainya!” sebenarnya ragu ku katakan ini. Ah! Macam mana pula ini? Nyatanya kami mulai berkawan, perlahan-lahan. Saling tegur. Mungkin karena buku motivasi yang dia pinjamkan padaku.
Sore itu, sepulang sekolah.Tingkah aneh pertamaku. Ketika aku harus bicara mengembalikan buku pinjamannya. “hei! Terima kasih. Ku tunggu pinjaman bukumu berikutnya.”
“Ok! Your welcome.” Sorot matanya tajam melihatku. Tatapannya adalah belati yang merobek semua perasaan benciku dulu. Itulah yang kurasa. Aku seperti melejit ke udara. Dengan kepakan sayap yang indah.
“apakah ini yang mereka bilang falling in love at first sight? Entahlah” aku masih tersenyum sumringah.
“Tidak! Tidak mungkin! Dia sedang dekat dengan perempuan lain.” Walau hubungan dengan kekasihnya sedang di ambang kehancuran. Meskipun begitu, mengapa aku merasa dongkol. Sudahlah aku tak mau menjilat ludahku sendiri. Hanya karena perasaan ini. Dan mereka pun tetap ecamkan itu. “awas! Benci bisa jadi cinta”
***
Hari kebebasan tiba, liburan. Hari kemenangan telah di ambang penantian. Bulan ramadhan pun sudah hampir di penghujung, menyambut hari kemenangan. Kami mengadakan baksos, kebetulan tak jauh dari tempat tinggalku. Lina sebagai tuan rumah. Dan laki-laki itu. kau! Kau itu jelangkung. Datang tak dijemput, pulang pun tak diantar. Dia bukan bagian dari kami. Kami tak mengundangnya. Namun, sebagai tamu asing kau tetaplah raja di daerah kami.
Aku terperangah dengan senyuman terpendam ketika melihatmu. Membentangkan tangan, memanggilku dari kejauhan. “deaaaaa . . . !”
    “kau ikut acara ini?” sebenarnya pertanyaan yang tak seharusnya di lontarkan.
    “jelaslah, untuk apa kau di sini, kami tak mengundangmu.” Hampir salah tingkah ku ucapkan itu.
Di waktu yang lain, ketika dia sedang tertidur. Ku geledah telepon genggamnya, sembunyi-sembunyi. Aku hanya ingin tau, bagaimana kau berdekatan dengannya, wanita idamanmu. Dengan pasti kau pun menyimpan fotonya. Nyatanya? Yang kutemukan itu hal yang sangat mengejutkan. Akupun hanya bisa tertawa dalam hati. Dasar pencuri! Ingin sekali ku tarik telingamu yang sedang terlelap. “hei! Jelek! untuk apa kau simpan fotoku! Dasar bodoh!” tapi, tak usahlah ku bangunkan kau dengan cara seperti itu. Biarkanlah aku tersimpan di memorimu secara rahasia. Walau hanya gambar berwarna. Asal muasal foto itu tak perlu aku tahu. Setidaknya kali ini aku terkulai senang di buatnya.
Kisah ini berawal dari “the memoriam of shoes”. Masih dalam acara baksos. Pagi itu kami semua lari pagi. Lumayan, tempatnya cukup strategis. Ketika ku lepas sepatu. Laki-laki itu mengambilnya. Sebentar, rupanya aku belum memberi tahu laki-laki yang sejak awal membuatku jungkir balik perasaan ini. Dia bernama Zimmy. Bayangkan saja, aku bak Cinderella mengejar anjing. Mengejar zimmy yang membawa lari sepatuku.
 “tidakkah kau tahu kawan? Sepatuku itu berbulan-bulan tak ku cuci. Karena ku memakainya hanya ketika liburan tiba.”
Terus saja zimmy berlari tak menghiraukan. Aku dan dia berlarian seperti film india. Hanya saja aku dan tak menari dan bernyanyi. Tapi menggonggong. Zimmy melemparkan sepatuku ke atas pohon.
     “heh! Bodoh! Turunkan sepatuku!” aku kesal, walau canda tawa itu begitu amat terlepaskan.
Zimmy hanya tertawa. “ambil saja jika kau bisa!” senang sekali melihatku sengsara.
“ambilkan! Aku tak sampai!” ku tarik-tarik bajunya yang elastis.
“kau yang berbuat, kau pula yang harus bertanggung jawab!” Akhirnya zimmy mengambilnya kembali.
“dasar bodoh, kau yang letakkan sepatuku disana mengapa kau tak bisa mengambilnya kembali” aku melihatnya lompat lompat seperti tupai. Tak sampai, berusaha mengambil sepatuku. Alhasil, dia berhasil mengambilnya.
“menyebalkan ! huh!” dongkol ku, sambil tersenyum puas!
“menyebalkan? Namun bukankah ini semua menyenangkan?” kata zimmy, dengan kenyang membuatku seketika menjadi atlet marathon. Aku tersenyum dengan pertaannya, tak mengerti maksud dirinya berkata demikian. The Memoriam of shoes, masih terkenang di kisah selanjutnya.
Zimmy pamit lebih dulu dari pada yang lain. “yah aku masih ingin kau disini, temani aku seperti tadi pagi” ungkap hatiku yang sedang meletup-letup. Mulai dari situ kami bersahabat. Walaupun zimmy lebih bersahabat dengan mereka yang lebih berharga dariku. Perempuan yang dekat dengannya, dan kedua sahabatnya. Mereka semua berempat. Saling berpasang-pasangan. Zimmy dengan ira. Dan zein dengan rina. Walaupun demikian aku tetap berada di belakangmu kawan. Aku akan selalu ada untukmu jika kau butuh, dan ku harap kaupun begitu.
Aku tetap berjalan hingga bosan, dalam potret kehampaan. Sendiri. Namun aku masih punya cinta sampai hari ini setidaknya. Walau rasa itu hanya selepas bayangan dan hembusan angin mesra ketika ku melihatmu. Laki-laki bernama zimmy itu.
***
Kali ini aku sudah berkasih (sebenarnya aku lebih suka bilang berpacaran). Namun bukan dengan zimmy. Hanya untuk mengisi kegalauan hatiku oleh kehampaan. Ku kenal dia di acara baksos yang sama. Dia Pras. Di luar warasku, Tak terpikirkan sama sekali bahwa aku akan berkasih dengannya. Pasalnya aku lebih dekat dengan zimmy, terlebih akupun tak begitu tahu tentang pras. Sekiranya yang kuharapkan itu, “The memoriam of shoes”. Laki-laki jelek dan menjengkelkan itu. Entahlah aku tak tahu akan seperti apa kisah ku kali ini dengan pras. Ini semua lebih baik, dari pada aku harus menunggu  sesuatu yang tak seharusnya ku harapkan.
Hubunganku dengan pras mengalir begitu saja. Walau pernah ku ukir kenangan indah bersama laki-laki lain. Tapi aku takkan mengatakan siapa laki-laki itu. Keputusanku terhadap pras ini semata-mata untuk mencegah agar aku tak menjilat liurku sendiri. Setidaknya dengan berkasih dengannya, aku bisa menjauh dari perasaan yang tak pernah bisa kujelaskan ini terhadap zimmy. Fatalnya, tetap saja laki-laki itu mengusikku. Dia dan bayangan senyumannya enggan tuk minggat dari otakku. Membuatku harus berguling-guling di kasur yang sempit. Tak bisa tidur. Jika ku pejamkan mata, rasanya aku seperti di angkat ke langit.
Entah apa yang kurasa. Bahkan akupun lebih dekat dengan zimmy dari pada pacarku sendiri. Kadang zimmy pula yang menjadi bahan komunikasiku dengan pras. Karena mereka satu kelas. Hanya zimmylah laki-laki yang dekat denganku saat itu. Zimmy pula yang mampu membuatku tersenyum dalam situasi dan keadaan apapun. Magic apa sebenarnya yang dia taburkan padaku. Aku berperangai cuek, jutek, terlalu jarang tuk tersenyum. Namun sekejap berubah, jika ku harus berpapas wajah dan mendapat surat dari zimmy. Aku seperti burung yang melejit ke udara. Dengan kepakan sayap membahana yang memecah langit, Duduk gemetar seperti baru saja melihat seribu malaikat.
Perlu kau tahu zimmy, “aku lebih sering tersenyum karena kau!” kecut hatiku.
Aku mulai merasa jenuh dengan pras. Percuma saja semuanya. Terlebih aku berperasaan lebih pada laki-laki lain. Hubunganku dengan pras pun berakhir dengan jalan dan situasi yang sangat begitu mendukung.
“laki-laki lain? Siapa dia?” Tanya gia.
“tak perlu ku beritahu, karena aku pun tak paham perasaan macam apa ini? Ah, sudahlah. Aku hanya merasakan perasaan senang yang tak pernah bisa ku jelaskan.Semuanya seperti pelangi tak terjamah.Indah tak terlukiskan.”
     “ah berlebihan saja kau.” Ejek gia mengahadapi aku yang di rundung cemas perasaan.
Paginya. Ku terima surat dari zimmy. Aku terhenyak. Membentakku dengan sinis dalam suratnya.
“hei. Mengapa kau akhiri hubunganmu itu. Kau tahu sobat? Pras masih begitu menyayangimu. Berharap kau tetap bersamanya lagi.”
“aku tak bisa. Aku segan. Dan ternyata diapun sejak awal hanya bermain-main denganku. Untuk apa ku pertahankan? Jika dia masih menyimpan rasa dengan mantan kekasihnya, teman sekamarku sendiri. Biar saja penyesalan itu ia gerogoti sendiri”
padahal akupun demikian. Sejak awal dengan pras. Semata-mata untuk bermain sesaat. Yang ku kira sebagai obat mujarab. “kawan andai saja kau tahu. Ku selipkan sesuatu untukmu di hati kecilku” gumamku dalam hati pada zimmy. Tuhan mengapa kau hantui perasaan ini padaku? Apakah ini yang sakral mereka bilang cinta? Tak mungkin! Aku tak mungkin mencintainya. Aku hanya senang berdekatan dengannya hanya memang karena dia menyenangkan.
Gia pun nampaknya curiga denganku. Mereka yang dekat denganku pun, tahu kedekatanku dengan zimmy.
“de, aku mulai curiga denganmu? Kau menyukainya?Laki laki ikal itu?”
Aku tertegun, sekonyong-konyongnya, aku di sergap malaikat kubur. Membuatku mati tingkah menjawab pertanyaan gia.
“tidak! Aku hanya senang dengannya. Aku menyayanginya, karena dia sudah ku anggap sahabat.”
Jawaban itulah yang terus ku lontarkan, sebenarnya ku paksakan.
Malam itu zimmy menemuiku di depan kelas.
“aku akan di botak besok. Karena surat yang ku titipkan untukmu tadi siang, tertangkap oleh guru. Baca suratku ini. Jangan sampai seorangpun tahu.” zimmy mengulurkan tangannya dengan mata mendelik kesegala arah. Gelisah kalau-kalau di pergoki orang lain. Terlebih guru.
“memang apa isi surat kau yang tertangkap itu? Hingga kau harus di hukum berat seperti itu?”
“nanti akan ku beritahu. Kali ini belum saatnya.” Zimmy berlari meninggalkanku.
Aku terhenyak, dia mendapat hukuman hanya karena secarik surat untukku. Itu memang kesalahannya. Namun aku tak tega jika harus melihatnya tanpa rambut. Terlebih minggu-minggu ini dia akan mengikuti perlombaan. Pasukan pramuka sekolah kami akan mengikuti perlombaan di luar sekolah. Ku tahu dirinya galau di tambah pula kesibukannya saat  ini. Surat yang tertangkap itu masih membuatku penasaran dengan tanda tanya besar. Sebenarnya apa isi suratnya sampai harus berakibat fatal seperti ini.
Malamnya sebelum tidur, ku baca suratnya. Terselip sebuah puisi untukku. Sulit ku menjamahnya. Aku sudah lupa, yang masih ku ingat penutup puisinya saja.
“tunggulah di saat hari kebebasan itu tiba, tetaplah untuk selalu membuka pintumu. Namun jika pintumu tertutup oleh orang lain. Jangan harap ku akan menepati janjiku. Selamanya.”
Aku tak bias tidur malam itu. Hanya karena puisi tak jelas.
       "janji?” ku kilas balik semua perkataannya.
Dulu saat ku sedang merasa frustasi .Aku sempat menulis di buku seorang teman dekatku.
       “kawan, buat aku happy disini” sehari sesudahnya. Tiba-tiba kulihat tulisan zimmy.
       “akan jadi janji untuku. This is the new adventure for me”
Artinya zimmy akan membuat hidupku bahagia di ruang lingkup kotak namun rumit ini. Kawan, tak perlu kau berjanji. Aku sudah cukup bahagia berkawan denganmu.

***
Di cerita yang lain. Rina salah satu sahabat dekat zimmy bercerita banyak tentang zimmy. Tentang hubungannya dengan Ira. Akupun hanya bisa membusungkan dada dalam-dalam mendengar cerita rina. Sakit hati itu memang pedih.Tapi, mencinta tanpa bicara itu ternyata menimbulkan pedih yang luar biasa.
“aku cukup iba melihat zimmy. Selama ini dia sudah cukup berkorban untuk mendapatkan ira. Namun Ira sama sekali tidak meresponnya. Padahal zimmy sangat menyayanginya dan rela melakukan apapun untuknya.” Gumam Rina.
“ih, bodoh sekali ku bilang! Mengapa ira seperti itu. Menurutku zimmy tipe laki-laki baik  dan setia. Aku pun kagum mendengar ceritamu tentangnya.” Kagumku menahan pedih.
“iya, Ira masih belum bisa menerimanya lebih dari status hubungannya saat ini, kakak beradik. Saat ini ira masih proses, berusaha untuk menerima zimmy dan menyayangi zimmy. Serta melupakan masa lalunya. Karena zimmy sudah dalam keputusasaan mendapatkan Ira.” Rina meyakinkan tentang hubungan mereka.
Mendengar cerita Rina aku tersenyum menjerit dalam-dalam dihati. Aku seperti orang lupa diri. Pontang panting kembali ke kamar. Dengan perasan cemburu yang bergumpal-gumpal dalam perutku. Perasaan ini sungguh menyesaki ronggaku. Aku terkulai dibuatnya. Selebihnya aku di dera siksa. Dua nama yang serasi kan berpadu dipertemukan nasib, aku semakin menderita. Rasanya ingin aku tidur lagi. Baru bangun jika mendengar sangkakala hari kiamat.
Seandainya kita bisa tahu dengan siapa kita akan berjumpa lalu jatuh cinta. Seperti tak ada lagi hari esok. Wahai Tuhan yang sedang duduk di singgasana langit ke tujuh! Inikah kehidupan yang kau berikan padaku? Mungkin hanya waktu yang sedikit demi sedikit dapat melipur laraku. Waktu pula yang mampu meredakan sesak yang ku alami. Hanya waktu yang tak pernah banyak tingkah. Namun waktu adalah musuh yang dia tipu saban hari dengan harapan. Aku masih terngiang akan janji zimmy, bahwa dia akan membuatku bahagia disini. Walaupun aku tak tahu seperti apa jalannya. Tetapi mengapa? Dia memberiku harapan dengan janji itu.
Karena teristimewa untuk cinta waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Jika cinta yang lama itu menukik. Jerat itu mencekik. Bagiku waktu telah menjadi spekulasi yang mendebarkan. Akankah esok semuanya berubah?
Zimmy masih dalam pengiriman pasukan pramuka di luar sekolah. Otakku masih terbayang bayang cerita Rina. Sampai giapun kembali ikut rungsing melihatku.
“bagaimana ?sudahlah tak usah kau ingat-ingat dulu untuk sementara ini. Akupun ikut resah melihatmu.” Gelisah Gia
“aku takkan mungkin menghancurkan harapan zimmy untuk mendapatkan ira, akupun takkan menggagalkan usaha ira untuk mencintai zimmy.
aku tak mau melenyapkan kebahagian zimmy yang hampir saja ia dapatkan. Lalu bagaimana denganku?” kataku gamang.
“entahlah akupun tak paham dengan kalian. Kau hanya tak ingin ira berfikir bahwa kaupun menyayangi zimmy. Aku tahu itu maksudmu” Gia berlaga sok tahu.
“ bisa saja sahabatku ini !” tersenyum memukul pundak Gia.
Sejurus kemudian diantara ingar bingar itu terbesit rencana untuk menjauh dari semua keindahan ini. Aku harus rela jauh dari orang yang selama ini mensupportku. Laki-laki yang belakangan ini membuat hidupku seperti pelangi. Aku harus menjauh darinya, menjauh dari perasaan yang tak pernah bisa ku jelaskan ini. Demi kebahagiaan yang selama ini di nantinya.
Agar Ira menghurungkan niatnya menjodohkan aku dengan zimmy, karena selama ini ia berfikiran bahwa aku begitu menyayangi zimmy. Agar Ira percaya bahwa aku sama sekali tak menyimpan perasaan lebih terhadap zimmy. Iyah, itu keputusan terakhirku untuk mensudahi semua ini. Mensudahi kedekatan dengan laki-laki yang selama ini mengobrak abrik jam belajarku, menyita waktu tidurku, memporsir nafsu makanku, mondar-mandir di kepalaku. Laki-laki tak tahu adab! Terus saja menggangguku!
Namun kali ini aku kehilangan semuanya. Ku lamunkan semua kebijakan itu dengan menanggungkan satu perasaan duka lara yang mendalam, sambil melihat kedua kakiku yang berayun-ayun bahkan tak sampai kebumi. Jika tidak bersedih atas sebuah kehilangan menimbulkan perasaan bersalah. Hal itu merupakan kesalahan baru. Sebab kesedihan harusnya menjadi bagian dari kebenaran. Aku wanti-wanti takut-takut keputusan ini salah. Nampaknya kesedihan ini semakin dalam ku alami, kesepian di keramaian. Mengeluarkannya dari ingatan bak mencairkan angin dari awan. Afraid, I’m so afraid of losing someone I never have.
Sepulang perlombaan pengiriman pasukan pramuka, zimmy sakit. Hampir satu bulan aku tak melihatnya. Kabarnya dia mengidap penyakit typus. Sungguh kala itu pula aku di sesaki oleh satu perasaan. Rindu.
Zimmy kembali bersekolah, aku melewatinya di depan kelas. Berat untukku menahan semua rasa ini. Ingin sekali aku menegurnya, di sisi lain aku punya janji, bahwa aku akan menjauh darinya. Dan ku coba tuk lepaskan semua ini.
       “hei, bagaimana keadaanmu? Sudah sembuh?” melihat postur tubuhnya yang terlihat lebih kurus.
       “iya” singkatnya dengan senyuman yang lama ku rindukan.
       “kau sakit apa?” tanyaku basa basi, padahal sebenarnya aku tahu.
       “typus”
Aku kembali ke kelas. maaf kawan, aku tak bisa banyak bicara denganmu. Di hari seterusnya, setiap berpapasan dengannya aku tak pernah menghiraukan sapaan bahkan senyumannya. Menundukkan pandangan itu lebih baik bagiku. Kawan sebenarnya aku tak sanggup dengan semua ini. Tak ada niat ku jatuh cinta padamu, karena kau miliknya. Tapi rasa ini tak bisa ku pungkiri lagi. Ku sengaja menjauhi kehidupanmu, karena ku tak ingin jadi pengganggumu. Tawamu adalah bahagiamu, bukan bahagiaku. Tapi sedihmu adalah sedihku. Zimmy pun berkirim surat.
       “kawan sepertinya ada yang lain darimu? Apa yang terjadi? Aku merindukanmu.”
       “ah, biasa saja. Ada saatnya kau harus tahu semuanya. Aku juga merindukanmu kawan. Hampir satu bulan kau tinggalkan aku.”
Semua ini berkelanjutan, hingga berbulan-bulan. Sampai saatnya liburan tiba. Tengah malam zimmy menelponku. Kami bicara banyak.
“hei, bagaimana kabarmu ? apakah aku mengganggu?”
“tidak, ada apa? Tak biasanya kau menghubungiku?” aku berusaha cuek, sebenarnya aku senang tak terkirakan.
“aku percaya denganmu. Aku punya banyak cerita. Aku tak tahu harus menceritakan ini kepada siapa lagi, selain denganmu. Ku harap kau mau mendengarnya.”
“baik, ceritakan saja jika kau mau?”
“kau tahu, aku pernah menjalin hubungan dengan ayu? Kau tahu? Mengapa hubungan itu berakhir?”
“iya aku tahu, aku tahu semua tentangmu. Dasar bodoh! Mengapa kau mengakhirinya?”
“apa yang kau tahu penyebab hubunganku berakhir?” Tanya zimmy memastikan.
“kau diamkan ayu, ketika liburan. Kau jarang menghubunginya.” Jawabku pasti.
       “kau tahu apa sebabnya?”
       “kabarnya kau mempunyai wanita lain.” Tebakku.
       “atagfirullah, aku tak pernah seperti itu! Hubunganku dengannya berlangsung 10 bulan. Entah mengapa. Aku merasa jenuh dengannya ketika hubunganku menginjak 6 bulan. Di tambah, tingkahnya, yang tak pernah lepas dari cermin. Aku segan. Setelah itu aku di hantui perasaan oleh seorang wanita. Wanita jelek, rebek, jutek, kecut, cemberut terus, cuek, aku semakin penasaran di buatnya. Terlebih kabarnya dia tak suka denganku kala itu. Kau tahu siapa dia ?”
“mana ku tahu, kau tak pernah ceritakan hal ini?”
“perempuan itu, teman sekelasku. Dede rizamis. Kau” ringan sekali dia bicara. Aku terhenyak. Dia menyebut namaku. Aku terdiam sejenak.
“aku? Lucu sekali ceritamu! haha” berhumor sedikit.
“iya, kau. Ku cari semua tentangmu. Sampai harus menelantarkan ayu. Karena aku bingung. Bagaimana caranya mengakhiri hubunganku dengan ayu. Itulah sebabnya mengapa ku diamkan ayu. Sampai dia merasa tak tahan denganku.”
“aku tak yakin dengan ceritamu.” Sambil tersenyum sipu aku di balik telepon genggam.
“terserah kau, yang jelas. Akupun tahu semua tentangmu. Aku tak habis fikir. Ternyata orang yang selama ini ku incar menyimpan rasa yang sama denganku.haha. kau tertangkap basah! Ketahuan!” zimmy tertawa senang, menangkap buronan.
“apa maksudmu? Terlalu percaya diri.” Aku bingung. Salah tingkah, akan ku jawab apa ini semua?
“sudah! Kau tak bisa bohong. Banyak saksi dan bukti.” Zimmy seperti sedang menyidangku di pengadilan.
“baik, akan ku ceritakan. Hingga aku bisa menyimpan rasa yang tak pernah bisa ku jamahi.”
Saat itulah kami saling terbuka oleh perasaan masing-masing. Akupun tak pernah menduga jika kisahnya harus seperti ini. Sudah hampir satu tahun lebih, kami menyimpan semuanya erat-erat. Kami seperti sedang bermain petak umpat dengan tuhan.
“kau tahu? Ketika penantian itu mendekat? Aku harus hancur! Aku galau! Perlu kau tahu, aku sakit hati ketika ku fikir peluang untuk memilikimu semakin besar. Kau masih ingat “the memoriam of shoes”? zimmy mengulas kembali.
“iya, aku masih mengingatnya, karena aku mengenangnya.”
“semuanya terlambat, kau telah dimiliki pras.” Kesal zimmy.
“aku masih bisa terima itu selagi aku bisa berdekatan denganmu. Namun selang beberapa bulan yang lalu entah mengapa, ku yakin kaupun sadar. Mengapa kau menjauhiku! Aku kalang kabut dengan tanda Tanya besar.” Cerita zimmy penasaran.
“mungkin ini saatnya kau tahu. Aku tahu tentangmu. Akupun tahu kau sangat mengharapkan ira, dan ketika ira berusaha untuk menyayangimu. Tiba-tiba dia tahu kabar simpang siur tentang kedekatan kita, tentang perasaanku juga. Lalu dia berniat untuk mundur, dan menjodohkan aku denganmu.” Jelasku.
“lalu?” katanya penasaran.
“karena itu aku memilih jauh darimu. Aku tak mau merusak kebahagian yang hampir saja kau dapatkan. Perlu kau tahu itu! Karena jika kau bahagia, akupun bahagia.”
“biar tuhan, kau, aku dan makhluk ghaib lainnya yang mengetahui. Tak usah orang lain tahu. Terlebih Ira, ku yakin kau paham. Karena aku terlanjur bersamanya.”zimmy membuat perjanjian.
“iya aku pahami ini. Semuanya memang terlambat.”
“aku sayang padamu kawan!” zimmy menutup pembicaraan.
“aku juga menyayangimu.” Jawabku dengan senyuman hangat di balik telepon genggam.
Kami bicara banyak hingga azan subuh menjelang. Aku merasa sayap tumbuh dibawah ketiakku, dan aku bersyukur kepada yang maha tinggi untuk menciptakan huruf S dalam kalimat yang penuh pesona itu. Sekonyong-konyongnya aku disergap perasaan senang tak terperikan. Sesosok makhluk seperti bangkit dalam diriku. Menghidupkan lagi sendi-sendi jemariku. Cinta jenis apakah ini? Aku menggenggam jemariku sendiri yang gemetar. Betapa aku sayang pada laki-laki itu. Aku tak bisa tidur, tak sabar aku berjumpa dengannya.
Aku, dia dan waktu seperti telah membentuk semacam persekongkolan yang begitu ganjil. Sehingga di dunia ini hanya aku, dia dan tuhan yang boleh tahu. Namun bukankah ada kalanya menyerahkan diri pada godaan dan memelihara rahasia menjadi bagian dari indahnya menjalani hidup ini ?
Ketika masuk sekolah sudah hampir tiba, kami harus bicara kembali. Akan seperti apa kami nanti ketika masuk sekolah tiba. Zimmy menelponku.
“bagaimana kita di sekolah nanti?” Tanya zimmy ,kurasa dia bingung.
“apa maksud kau? Ku kira biasa saja. Berkawan.”
“tapi aku takut? Resah zimmy.
“apa yang kau takutkan? Just enjoy! All izz well . Semuanya akan baik-baik saja.”
“aku takut Ira, aku takut menyakitinya.” Jawabannya membingungkanku.
“kau bodoh ya! Tak usah kau ceritakan tentang kita. Lagi pula aku dan kau memang berkawan kan? Apa salahnya?” jawabku mulai kesal.
“aku takut jika aku kembali berkawan denganmu. Ira itu sensitif. Bagaimana jika di sekolah nanti, seperti kemarin yang kau lakukan. Saling menjauh. Pura-pura tak saling kenal ?”. ringan sekali usulnya.
Aku terdiam, mununduk, tak bisa membendung air mata. Kau tahu kawan, air mata ini menetes saat kau tawarkan usulanmu itu. Baru saja 2 minggu yang lalu kau buatku melejit ke udara. Tiba-tiba kau harus jatuhkan aku berkeping-keping. Ketika ku berharap mengulangnya seperti dulu.
“terserah kau, jika memang itu yang terbaik bagimu, aku paham.” Setujuku dengan pasrah.
Hidup harus berlanjut, lupakan kesedihan, jangan lagi di risaukan. Mungkin ini takdir langit yang tak pernah ku sadari. Seperti inilah aku dengannya, aku harus berusaha membencinya kembali agar aku tak pernah ingat dengan perasaan ini. Aku muak jika harus mendengar suaranya. Bahkan melihat wajahnya. Menundukkan pandangan itu lebih baik. Ku rasa diapun begitu.
Saat kerinduan menyeruak hanya menambah perih yang dalam di hati. Diapun berkirim surat memaki-makiku, karena secara tidak langsung aku telah mengganggunya. Surat itu semata-mata hanya sebagai pengantar rindu. Akupun membalasnya demikian, karena bukan hanya dia yang terganggu. Aku juga.

***

Bertemu di bulan ramadhan, bulan penuh berkah. Setelah satu tahun yang lalu ku alami “the memoriam of shoes”. Bulan ramadhan kali ini kami mengadakan buka puasa bersama di Jakarta. Tepatnya kala itu aku melihatnya dengan Ira. Kucuba untuk biasa, walau sebenarnya tak bisa. Malamnya pun aku menginap di rumah Ira. Di kamar, kutemukan paper bag milikku. Kuberikan kepada zimmy sebagai bag untukku kadoku. Namun saat ini paper bag itu ada di depan mataku. Rupanya zimmy memberikan kado ulang tahun kepada Ira menggunakan paper bag dariku. Kesal memang, tapi mau gimana lagi. Ku temukan surat di dalamnya. Ku baca gemetar, tanpa sepengetahuan Ira. dadaku seperti di tikam belati. Sakit.
Siangnya kami menghabiskan waktu menuju kota tua. Terik matahari menyengat di saat kami berpuasa. Menjelang sore kami beraksi memasangkan gaya masing masing untuk take picture. Tiba-tiba zimmy mengirim pesan (sms) padaku.
“rupanya kau tak pernah berubah ya? Gaya kau tetap seperti itu!”
“apa maksudmu? Gayaku? Karena inilah aku.” Anehku, tak biasanya dia sms aku.
“iya. Gaya kau di memoriam of shoes. Kau pun masih menggunakan kerudung dan sepatu dengan warna yang sama.”
Aku semakin curiga, sepertinya zimmy mengintai di sekitar sini. Aku sama sekali tak melihat batang hidungnya. Mungkin karena aku bersama Ira. Tapi aku linglung di buatnya. Mengapa dia tahu aku.
Aku melanjutkan perjalanan ke stasiun Jakarta kota. Untuk kembali pulang setelah 2 hari di Jakarta. Tak jauh dari kota tua.
“kau mau kemana?” Tanya zimmy di sms.
“mau pulang lah bodoh!” jawabku sinis.
“sekarang dimana kau berada?”
“aku di stasiun Jakarta kota.” Aku semakin curiga, sepertinya dia masih mengintaiku.
“sekarang, bisa kau ke jalur 12. Penting! Temui aku!”
“untuk apa? Siapa yang butuh? Kau saja temui aku di sini. Jalur 1.” Semakin penasaran aku. Ternyata dia di sekitar sini. Sejurus kemudian perasaanku mulai gugup. Aku akan berjumpa dengannya kali ini. Di stasiun ini. Akankah ada kisah yang berkenang lagi?
      “kau ke arah kiri, sebrangi rel. tengok ke arah kanan.” Petunjuk zimmy padaku.
Tuhan apakah ini? Aku melihat sosoknya. Dari kejauhanpun sudah berdetak kencang jantungku. Akankah aku bicara 4 mata dengannya? akupun menuju ke arahnya. Dengan perasaan berdebar di tengah keramaian. Zimmy langsung menarik lenganku dengan bisikan halusnya.
“ternyata bermain di belakang panggung itu tidak enak ya?” sambil berjalan dengan genggaman erat tangannya.
Ya tuhan tingkah apalagi ini, aku tak munafik aku terseret dalam genggamannya. Dia menggenggamku ! tak pernah aku merasakan hal ini sebelumnya, genggaman yang begitu hangat. Dari laki-laki yang seringkali hatiku miris dibuatnya. Jangan samapai aku katakan lagi, Bahwa aku menyayanginya.



BERSAMBUNG………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar